Bila tentara-tentara Yahudi Israel senantiasa membunuh kaum Muslim Palestina dengan kejam, maka intelektual-intelektual Yahudi mengendalikan negeri-negeri Muslim dengan membentuk lembaga-lembaga survei.
Entah Burhanudin sadar atau tidak, makalah ilmiahnya tentang Majalah Media Dakwah menguntungkan Yahudi. Dalam artikel itu Burhanudin Muhtadi yang saat itu menjadi mahasiswa Australian National University meniadakan teori konspirasi Yahudi. Burhan memuji intelektual politik AS (Yahudi) William Liddle dan tokoh-tokoh liberal di Indonesia. Ia pun mengritisi dengan sinis pendapat pakar politik Islam, Prof Amien Rais. Artikelnya yang dimuat di Graduate Journal of Asia-Pacific Studies, 2007, itu diberi judul : The Conspiracy of Jews: The Quest for Anti-Semitism in Media Dakwah.


Bila Burhan ‘hanya’ memuji Liddle dari Australia, maka Saiful Mujani, Denny Ja dan Eep Saefullah Fatah adalah murid langsung kesayangan Liddle di Ohio State University. Mujani bukan hanya menjadi murid, sampai sekarang ia bersahabat akrab dengan gurunya itu dan sering menulis buku berdua. Mujani yang dikenal juga sebagai pemikir liberal di Indonesia –mereka bertiga bergabung dengan Jaringan Islam Liberal- membuat LSI di Indonesia. Saat ini ia membuat SMRC, Saiful Mujani Research and Consulting. SMRC selain membuat survei-survei untuk pemilihan kepala daerah, wakil rakyat dan calon presiden, mereka juga memberikan advokasi atau paket-paket strategi pemenangan calon.

Selain aktif menulis makalah atau artikel yang banyak menguntungkan kepentingan Barat, Burhan kini juga memiympin lembaga survei : Indikator Politik Indonesia. Lembaganya itu kini sering aktif bekerjasama dengan stasiun MetroTV untuk mempropagandakan pemikiran politiknya atau angka-angka hasil survei lembaganya.

Denny JA tidak jauh beda. Pada mulanya Denny dengan Mujani bergabung membuat LSI, Lembaga Survei Indonesia. Akhirnya mereka berdua pisah dan mendirikan lembaga masing-masing. Denny mengklaim telah berhasil dengan lembaganya, menjadikan puluhan calon kepala daerah sukses meraih jabatannya. Ia pun beriklan di berbagai media massa bahwa hasil surveinya selalu paling cepat dan paling akurat. Denny dan Mujani diakui memang yang pertama kali memperkenalkan metode quick count untuk pemilihan umum di Indonesia.

Selain memperkenalkan lembaga survei, Denny juga aktif menggalang pemikiran-pemikiran liberal di Indonesia. Ia pernah menulis kumpulan puisi ‘Atas Nama Cinta’ yang isinya penuh dengan pemikiran-pemikiran liberal. Diantaranya : propaganda pernikahan antar agama, propaganda lesbi/homo, propaganda pluralism dan lain-lain.

Lewat bukunya yang berjudul Atas Nama Cinta, penerbit Rene Book, yang terdiri dari 216 halaman, Denny mencoba mengampanyekan pemikirannya. Perlu diketahui, penerbit Rene Book ini juga yang menerbitkan buku Irshad Mandji: Allah, Liberty and Love. Dalam karyanya ini, Denny menuliskan puisi-puisi yang intinya mengajak kepada kebebasan, pembelaan terhadap non Islam dan penyamaan agama. Puisi Denny ini memang diluncurkan besar-besaran. Selain dipromosikan besar-besaran di Gramedia beberapa bulan lalu, buku ini juga dilombakan resensinya di Majalah Tempo, dilombakan videonya, dibedah di beberapa tempat dan lain-lain. Banyak tokoh memuji buku Denny ini diantaranya Komaruddin Hidayat, Ignas Kleden, Bondan Winarno, M Sobary dan lain-lain. Beberapa tokoh menyebutnya genre baru puisi –tapi sebenarnya model puisi ini telah dimulai oleh Taufiq Ismail.

Gaya puisinya memang cukup bagus, tapi isinya melenakan dan ‘membodohkan’. Karena ia menggabungkan antara fakta dan fiksi. Detail kejadian atau tokoh itu fiksi, tapi peristiwanya menurutnya fakta. Bagi mereka yang awam –‘khususnya masalah Islam dan sosial politik’- bisa hanyut oleh puisi Denny ini.

Dalam puisinya tentang Cinta Terlarang Batman dan Robin, misalnya, Denny pintar memainkan kata-kata untuk membela kaum Gay. Di puisi itu ia mengambarkan kisah cinta antara Amir dan Bambang. Amir seorang yang sebenarnya rajin ibadah digambarkan punya kelainan seksual genetis menyenangi pria. Meski mencoba menikahi dua wanita –sesuai pesan ibunya agar segera menikah—tapi akhirnya kandas. Ia tetap mencintai Bambang seorang gay yang akhirnya menjadi aktivis gay internasional. Bila Hanung Bramantyo kemudian menfilmkan naskah puisi Denny ini –dengan latar belakang pesantren dan kabarnya film ini akan dirilis Oktober 2012 ini— maka sebenarnya Hanung dan Denny bisa dikatakan menggambarkan kejelekan Muslim dan membela opini bahwa gay adalah masalah genetika. Padahal para ahli banyak menyatakan bahwa gay atau homoseksual banyak diakibatkan oleh lingkungan. Karena kalau itu masalah gen tidak bisa disembuhkan, maka pertanyananya untuk apa adanya pendidikan? Bukankah banyak gen yang berotak bodoh di dunia ini?

Begitu juga ketika Denny JA bercerita tentang kisah cinta Romi dan Yuli. Puisi ini sudah dibuat filmnya oleh Hanung. Di puisi ini Hanung berkisah tentang Romi dan Yuli. Ayahnya Romi berasal dari Cikeusik yang merupakan komunitas Ahmadiyah. Sedangkan ayah Yuli dari kalangan Muslim yang anti-Ahmadiyah. Tapi Romi dan Yuli memutuskan untuk tetap meneruskan kisah cinta mereka. Bedah buku dan pemutaran video puisi esai Denny JA ini menjadi puncak acara lomba sastra antar SLTP dan SLTA se- Provinsi Banten pada awal Juni lalu. (lihat http://puisi-esai.com/2012/06/04/pelajar-banten-bedah-buku-denny-ja-tanamkan-toleransi-beragama-lewat-sastra/)

Sedangkan dalam film yang berjudul Batas yang merupakan pemenang pertama (berhadiah 20 juta) lomba Review untuk buku puisi Denny, jelas-jelas film itu pluralisme atau mempropagandakan perkawinan antar agama. Di film yang berdurasi total 7 menit 1 detik itu, pembuat film Ahmad Syafari mengisahkan percintaan antara Dewi yang Muslimah dan Albert yang Kristen. Mereka cukup lama berpacaran, tapi karena bapaknya Dewi melarang menikah dengan lain agama (Albert) maka akhirnya Dewi menikah dengan laki-laki Muslim. Cuma digambarkan di situ meski keluarganya cukup kaya, Dewi tidak bahagia, ia sering melamun ke Albert dan mengingat masa lalunya dengannya. Apalagi di rumahnya Dewi harus mencopot sepatu suaminya (tiap) sehabis pulang kantor. Sementara Albert hidup sederhana dan tetap di gereja yang sederhana (lihat www.puisi-esai.com).

Film pendek itu memang secara halus menghina Islam. Ketika bapak Dewi dengan pakaian putih dan kopiah putih mengatakan ‘dengan arogan’: “Aku sangat malu menjadi orang tua yang kena murka Allah, aku tak akan tahan menjadi insan yang dilaknat hanya membiarkan anaknya menempuh jalan yang sesat.” Selain itu penggambaran wanita Muslimah yang mencopot sepatu suaminya ketika pulang kantor, juga berlebihan. Karena peristiwa ini jarang terjadi di keluarga-keluarga Muslim.
000
Kini Denny membuat gerakan ‘Indonesia Tanpa Diskriminasi’ untuk mengegolkan agenda politiknya. Ia mengeluarkan uang milyaran baik untuk pembuatan buku, film maupun iklan-iklan di media massa. Inti gerakannya ini adalah Indonesia tidak boleh membeda-bedakan warganya berdasarkan agama, suku dan lain-lain. Seolah-olah idenya ini menarik dan benar, padahal dibalik itu ia sedang mendukung hegemoni kelompok etnis non pribumi dan asing terhadap sumberdaya ekonomi Indonesia. Dan pemikirannya ini berbahaya, karena ia meniadakan konsep mayoritas dan minoritas agama di Indonesia. Padahal masalah agama di Indonesia, adalah identitas politik yang penting dalam pengambilan kebijakan di Indonesia.

Denny memang punya pengaruh besar dalam politik di Indonesia. Di dunia akademik, Denny JA mendirikan Lembaga Survei Indonesia (LSI, 2003) Lingkaran Survei Indonesia (LSI, 2005), Asosiasi Riset Opini Publik (AROPI, 2007), serta Asosiasi Konsultan Politik Indonesia (AKOPI, 2009). Melalui empat organisasi ini, Denny JA dianggap founding father tradisi baru survei opini publik dan konsultan politik Indonesia. Di dunia politik (2004-2012), Denny JA diberi label king maker. Ini berkat perannya membantu kemenangan presiden dua kali (2004, 2009), 23 gubernur dari 33 propinsi seluruh Indonesia dan 51 bupati/walikota.

Sedangkan Eep Saefulloh Fatah kini moncer dengan lembaga surveinya Pollmark Indonesia. Ia menjadi konsultan politik Jokowi sejak Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta (2012). Eep juga masuk dalam daftar aktivis Jaringan Islam Liberal yang dimotori oleh Ulil Abshar Abdalla.

Sebenarnya ada satu lagi murid kesayangan Liddle di Indonesia. Yaitu Rizal Mallarangeng. Rizal yang pernah aktif membantu Megawati ketika presiden, entah mengapa, akhirnya menyeberang ke Golkar. Ia kini sangat dekat dengan Aburizal Bakrie. Kemana-mana ia sering mendampingi bos nomor satu Golkar itu. Baik saat olahraga (tenis) maupun lobi-lobi politik. Bahkan Rizal juga ‘menodong’ Bakrie untuk membiayai program-programnya di Freedom Institute.

Rizal yang latarbelakang akademisnya ekonomi politik ini, sering menjadi ‘host’ dalam mengegolkan kepentingan-kepentingan bisnis Amerika disini. Diantaranya ia menjadi wakil perusahaan minyak AS, Exxon Mobil, untuk memenangkan tender proyek minyak di Cepu. Prestasinya dalam liberalisasi politik adalah membentuk Freedom Institute di Jalan Proklamasi Jakarta. Ketika membentuk perpustakaan Freedom Institute ia bercerita dengan bangga mendapat bantuan dari Liddle satu milyar untuk membeli buku-buku untuk perpustakaannya.
Walhasil Barat, khususnya AS dan Australia, lewat intelektual-intelektual yang dididiknya kini berhasil menancapkan kuku kepentingannya yang dalam di Indonesia. Baik dalam kepentingan bisnis maupun politik. Lewat lembaga-lembaga survey di Indonesia, mereka senantiasa menerima informasi dan data yang actual tentang perkembangan politik Indonesia terkini dan ke depan. Dan kita seringkali tergagap-gagap melihat ‘zig-zag’ gerakan politik mereka. Wallahu azizun hakim.* Nuim Hidayat