sharia.co.id – Suatu ketika seseorang berada disamping rasulullulah SAW,lalu ada sahabat yang berjalan dijalan didepannya, orang yang berada disamping Rasulullulah SAW tiba-tiba berkata, “ya Rasulullah aku mencintai dia”, “apakah engkau telah memberitaukan padanya,” tanya nabi. ‘belum’ jawab orang itu, “nah beritaukanlah padanya” kata nabi. kemudia orang itu segera berkata pada sahabatnya, “sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah” orang itu menjawab, “semoga Allah mencintaimu, karena engkau mencintaiku karenaNya” (HR Abu DAud)

Hari ini saya ingin menuliskan sesutau yang merupakan sesuatu yang berhubungan dengan kita semua. Yang malam ini saya merasakan sesuatu yang membuat saya tidak bisa tidur karena harus membuat sesuatu keputusan yang besar yang akan merubah segalanya dalam hidup saya ini. secara umum sesuatu ini merupakan sesuatu yang kadang kita bisa menolaknya kadang juga tidak bisa menolaknya untuk kehadirannya. Yang saya maksudkan disini adalah perasaan cinta, atau dalam bahasa arab itu disebut Mahabah.

Dalam hal ini kita sepakat jika cinta merupakan ungkapan perasaan hati, oleh karena itu cinta merupakan sesuatu yang abstrak. Karena sifat awalnya adalah sesuatu yang abstrak, maka cinta tidak bisa dikaitkan dengan sesuatu yang sifatnya dhohir, atau materi. jadi kalopun kita ditanya kenapa anda mencintainya? Pasti jawabanya sulit untuk dikonkritkan, kalo pun ada seseorang yang mencoba untuk menkonkritkan alasan-alasan kenapa mencintai seseorang, maka sesungguhnya itu menunjukan bahwa dia tidak mencintainya sebagaimana mestinya.

Seperti misalnya seseorang bersandar mencintai seseorang karena kecantikannya, hartanya, pengaruh dan status sosialnya maka hal itu menunjukan cinta yang berorentasi pada materi. Jika seseorang tidak cantik lagi, apa cinta itu masih bisa hadir? Padahal sifat cinta itu sesuatu yang abstrak, kita mencintai sesuatu karena kita mencintainya tidak bisa kita beri alasanya karena sulit menggambarkannya pada orang yang kita cintai.

Konsep diatas adalah konsep umum dalam memandang cinta, persoalannya adalah, apakah ada konsep cinta dalam Islam? karena islam adalah dynul syamilun (agama yang sempurna) tentu ada pembahasan khusus dalam melatakan cinta pada tempatnya.

Dalam konsep Islam, tentu saja dalam konteks muslim dan muslimah yang baik dan taat. dalam konteks Islam cinta merupakan anugrah yang diberikan oleh Allah SWT kepada seseorang muslim dan muslimah yang taat. Oleh karena itu dalam pandangan seorang muslim yang taat cinta merupakan sesuatu yang tidak perlu diusahakan dan diupayakan.

Sesorang muslim dan muslimah yang taat ketika dia dikarunia perasaan cinta pada sesuatu atau seseorang maka perasaan cinta itu akan hadir begitu saja tanpa dia bisa kuasa menampiknya dan menolaknya. Jadi dia tidak perlu untuk mengusahakan dan menghadirkan perasaan itu ataupun dia tidak perlu untuk harus menolak perasaan cinta itu.

Karena cinta dalam pandangan muslim dan muslimah yang taat itu merupakan anugrah dari Allah SWT, karena jika Allah berkehendak pada sesuatu siapaun tidak bisa menolaknya sebagaimana Allah juga pada saat menolak sesuatu, tidak ada siapapun yang mampu mengusahakanya. Ini adalah prinsip dasar akidah, dan hakikat dari kehendak Allah SWT.

Persoalanya akhi fillah, kapan cinta itu tumbuh pada seseorang atau sesuatu? Hal ini berbanding lurus dengan seberapa jauh cinta dia pada Allah SWT. Jadi cinta dia kepada selain Allah SWT itu merupakan bagian dari refleksi dari cinta dia pada Allah SWT.

Dalam arti kata, ketika seorang muslim betul-betul mencintai Allah SWT maka Allah akan mengaruniakan rasa cinta pada dia kepada siapa saja yang dicintai Allah SWT. Hal ini akan sesuai dengan konsep cinta pada definisi umum tadi, sesuatu yang bersifat abstrak.

Penjelasan kenapa tiba-tiba ko saya mencintai dia, tiba-tiba saja saya ko tumbuh perasaan senang pada dia, karena dimana dia itu notabennya adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT.

Hikmah dari orang-orang yang betul-betul mencintai Allah maka dia akan mencintai orang-orang yang Allah cintai. Walaupun baru saling kenal, dari pandangan pertama dia akan merasakan seseorang ini yang Allah cintai dan akan menumbuhkan rasa cintanya, dalam istilah Rasul SAW menyebutnya “almahabatani”, dua orang yang saling mencintai.

Dalam islam tidak berlaku istilah, tak kenal maka tak sayang. Meskipun kita tidak saling mengenal siapa dia dan siapa saya, tapi jika keduanya merupakan orang-orang yang mencintai Allah maka akan tumbuh rasa cinta itu, siapa yang menumbuhkannya adalah Allah SWT.

Oleh karena itu dalam membangun cinta, dalam Islam tidak perlu harus mengenali seseorang yang hendak kita cintai itu luar dalam, selama kita mencintai Allah dan dia juga mencintai Allah Insya Allah dalam pandangan pertama akan tumbuh rasa cinta dengan sendirinya. Walaupun kita berusaha menolaknya kita tidak akan mampu menolaknya.

Meskipun barang kali suara nafsu kita, karena nafsu itu memang tidak pernah bisa diam dan bersuara lain. boleh jadi nafsu berbicara lain mengatakan untuk apa mencintai seseorang yang tidak cantik, tidak kaya, tidak punya kelebihan. Suara-suara nafsu seperti itu akan mudah dilibas oleh kekuatan cinta kita pada Allah SWT.

Sehingga dalam hal ini persaingannya adalah antara sejauhmana cinta kita pada Allah dan sejauh mana kedekatan kita dengan nafsu kita. Itulah yang akan menentukan siapa yang akan kita cintai dan kita akan dicintai oleh siapa. Pada ahirnya kembali kepada sejauhmana kita mencintai Allah SWT dan Allah akan mengatur cinta kita pada siapapun yang dia kehendaki jika kita nisbatkan pada Allah SWT, jadi itu maksud makna dari mencintaimu karena Allah SWT.

Ikhwah fillah, banyak manusia memberi alasan mencintai seseorang karena Allah tetapi berjalan pada rel yang salah, hal ini harus diluruskan dan dipisahkan antara cinta karena Allah dengan cinta pada bisikan nafsu untuk memiliki atau nafsu pada syahwat.

Tidak mungkin orang mencintai Allah tetapi dia melakukan maksiat dengan berhalwat, tidak mungkin dia mencintai seseorang karena Allah tetapi dia tetap berzinah besar atau kecil secara sengaja ataupun tidak sengaja. cinta yang hakiki adalah cinta yang dinisbatkan pada Allah SWT, dan yang menumbuhkan cinta itu adalah Allah SWT pada saat dan waktu yang tepat yang Allah lebih mengetahui kapan rasa itu hadir.

Kita sendiri yang bisa menjawabnya apa yang sudah kita lakukan untuk mencintai Allah. Jika kita ingin seorang jodoh yang Allah mencintainya, mari mulai sekarang kita tanamkan rasa cinta pada Allah SWT dan memupuknya dengan ilmu dan mengaplikasikannya dengan akhlak sholeh.

“Untuk bidadariku, saya tidak menjanjikan hidup kedepan dengan mudah.. tapi saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk menjadi hamba yang berkualitas disisiNya dan membuat hidup terasa bahagia”.

(Penulis : Arthanto Moestra)