sharia.co.id – Imam Ghazali terkenal dengan ‘kesufiannya’. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa sang Imam yang alim ini juga fasih ketika bicara cinta. Tapi bukan cinta laki-laki dan perempuan melainkan antara manusia dengan penciptanya.

Menurut sang Imam, cinta dapat tumbuh setelah ada pengenalan dan pengetahui terhadap yang dicintainya. Ulama besar kelahiran Iran ini menyatakan: “Pertama yang harus diyakini adalah tidak tergambar suatu cinta kecuali setelah ada pengenalan (makrifat) dan pengetahuan (idrak) secara mendalam. Karena seseorang tidak akan mencintai kecuali terhadap yang telah ia ketahui dan kenal. Maka tidak ada cinta pada benda mati, karena cinta adalah sifat khas bagi yang hidup, yang mengetahui obyek selain dirinya.”

Penulis kitab Ihya’ Ulumuddin juga menyatakan bahwa cinta adalah kecenderungan hati terhadap sesuatu yang mendatangkan kenikmatan. Jika kecondongan diri semakin kuat dan kokoh, maka ini dinamakan rindu (isyq). Sedang benci merupakan kecenderungan hati untuk menolak dan menjauhkan diri terhadap hal yang menyakitkan dan merugikan. Jika hal ini semakin menguat dalam dirinya, maka disebut dengan kebencian akut (maqt).

Lebih lanjut Imam Ghazali menyatakan bahwa cinta itu terbagi dalam beberapa bagian sesuai dengan pengetahuan dan penangkapan panca indera. Lebih  lanjut sang Imam menyatakan: “Setiap panca indera memiliki pengetahuan dari masing-masing obyek yang ditangkapnya. Dan setiap panca indera itu juga memiliki kenikmatan masing-masing dari obyek yang ditangkapnya. Kenikmatan itulah yang menimbulkan kecenderungan untuk mendekatinya, sehingga ia dicintai. Nikmatnya indera penglihatan dapat dirasakan saat melihat suatu pemandangan yang indah, bagus, cantik dan mengagumkan. Nikmatnya indera pendengaran adalah dengan mendengar senandung lagu yang merdu. Nikmatnya indera penciuman dapat dirasakan saat makan dan nikmatnya indera peraba dapat dirasakan saat memegang suatu benda yang lembut.

Rasulullah saw bersabda: “Yang aku senangi dari dunia kalian tiga perkara: Wangi-wangian, wanita dan Dia (Allah) menjadikan mataku sejuk dalam shalat.”

Wangi-wangian disukai karena dirasakan indra penciuman. Sedangkan mata dan telinga tidak dapat merasakannya. Ketua perguruan Islam an Nizhamiyah di Baghdad ini menyatakan: “Adapun menjadikan shalat sebagai penyejuk hati adalah, bukti dari kecintaan yang paling mengakar, yang tidak dapat diketahui oleh panca indera. Tetapi ia dapat dirasakan oleh indera keenam yaitu: mata hati. Hanya orang yang memiliki mata hati yang dapat merasakanya.”

Lebih lanjut Imam besar ini menyatakan: “Kenikmatan yang diperoleh melalui panca indera  itu dapat dirasakan oleh manusia dan binatang. Maka bila cinta itu hanya terbatas pada yang diketahui oleh panca indera saja, berarti Tuhan (Allah) tidak dapat mencintai. Karena Tuhan tidak diketahui punya panca indera dan tidak mungkin tergambar dalam khayalan. Ini sekaligus meruntuhkan pendapat bahwa cinta itu merupakan sifat khusus yang hanya ada pada manusia. Sedangkan indera keenam, yaitu mata hati hanya terdapat pada manusia. Tidak pada makhluk lain. Sering pula dinamakan dengan akal, nur atau hati.

Penglihatan dengan mata hati –menurut sang Imam- lebih kuat daripada mata biasa dan hati lebih banyak mengetahui dibanding mata. Keindahan sesuatu yang diketahui dengan akal (hati) adalah lebih indah daripada keindahan bentuk lahiriyah yang tampak oleh mata. Oleh karena itu tidak mustahil bahwa hati lebih sempurna dan lebih kuat merasakan nikmat kemuliaan Tuhan dan hal-hal ilahiyah daripada panca indera. Secara naluri, kecenderungan jiwa dan akal yang sehat pada kenikmatan itu tentu lebih kuat. Tidak ada makna cinta kecuali cenderung terhadap apa yang diketahui dapat mendatangkan nikmat. “Jadi cinta Tuhan itu tidak mungkin diingkari kecuali oleh orang-orang yang berderajat rendah seperti binatang. Orang seperti itu hanya mengandalkan panca indera saja,”kata sang Imam, penulis Bidayatul Hidayah.

Al Quran menyatakan: “Dan sungguh Kami penuhi neraka Jahannam itu banyak jin dan manusia. Mereka punya hati (akal) tapi tidak memahaminya, dan punya telinga tapi tidak mendengarnya  dan punya mata tapi tidak melihatnya. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi.” (QS Al A’raf 179).

Lebih lanjut Imam Ghazali menyatakan: “Manusia mencintai dirinya, kesempurnaan dan kelangsungan hidupnya. Maka ia benci pada kebinasaan, ketiadaan dan kekurangan pada dirinya. Ini adalah naluri setiap makhluk hidup, yang takkan terlepas darinya. Untuk itu semua harus cinta kepada Tuhan, karena orang yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhan (Rabb) pasti tahu bahwa ia tidak memiliki eksistensi (wujud) bagi dirinya sendiri. Dan bahwa eksistensinya, kehancuran, kemajuan dan semua yang ia alami merupakan hadiah dari Tuhan, dan ia pun akan kembali kepada-Nya.”

Jadi, manusia mesti memahami bahwa otaknya (akalnya) diciptakan oleh Allah SWT . “Dan pada diri kamu, mengapa kamu tidak melihatnya?” tegas Al Quran yang mulia.(*NH)